!!!!!!!!!......PIMPINAN REDAKSI (HAKAN SYUKUR)BESERTA SELURUH PENGURUS GORESAN TINTA ANAK PMII MENGUCAPKAN SELAMAT DATANG DIBLOGER GOSTA PMII Se-Kota Mataram.......!!!!!!!! NACO (NO ACTION COMENT ONLY)

Pages

Senin, 17 Januari 2011

IAIN MATARAM DIPERSIMPANGAN JALAN “ TEROPONG WAJAH LEMBAGA AKADEMIS DITENGAN ARUS POLITIK “

“Didiklah Anak-Anakmu Itu Berlainan Dengan Keadaanmu Sekarang, Karena
Mereka Telah Dijadikan Tuhan Untuk Zaman Yang Bukan Zamanmu (Umar bin Khathab)”.

Ternyata apa yang dirumuskan oleh Umar Bin Khathab jauh sebelum masa ini mengalami perubahan sosial yang begitu moderen, sudah tidak menjadi spirit lagi seperti apa yang dicita-citakan. Dalam konte...ks ini kita bisa melihat lembaga edukasi kampus yang mengalami pemakzulan. Melirik IAIN Mataram  yang seyogyanya menjadi lembaga transformasi pencerdasan terhadap siapa yang berkecimpung didalamnya. Pencerdasan- pencerdasan itu sudah berbelok sedemikian arahnya menjadi kearah peperangan politik perebutan roti-roti kekuasaan semata.

Politik diperlukan, tetapi jika sebuah politik malah menjadikan mahasisiwa terlantar apalah artinya sebuah rekayasa, yang hanya akan melahirkan konflik semata. Posisi akan menambah keterpurukan Tri Dharma Perguruan Tinggi (pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat). Tidak hanya sebatas itu saja. Konsekuensi logisnya, para elite penguasa kampus terpaksa harus mengingkari akal sehat keilmuannya dan bisikan kebenaran nuraninya, akibat dorongan egosentrisme/chauvinisme ekstrim yang tumbuh dalam jiwa dan pikirannya. Sehingga terjadilah degradasi moralitas intelektual (M Hamka, Serambi:19/04/2010) dan akhirnya kekuasaan menjadi berhala (Hasan Basri M. Nur, Serambi:14/04/2010). Karakter sistemik inilah yang melahirkan banyak prilaku negatif dalam kehidupan kampus, seperti kemunafikan, kepalsuan, kejumudan pikiran, dan ketidak-arifan dalam menghadapi berbagai perbedaan.
Juga sikap-sikap elitis-feudalis tertutup dan aksi-aksi pembodohan, manipulasi dan korupsi. Sementara orang-orang yang jujur dan kritis terpaksa harus disingkirkan. Karena dipandang mengganggu hidden agenda para penguasa dan bahkan dijadikan musuh bersama. Itulah sebabnya Paolo Friere berkesimpulan, bahwa institusi pendidikan di negara-negara rezim otoriter-sentralistik, telah menjadi tempat berlangsungnya praktek kapitalisme-hedonist yang licik dan gastrosofik. (“perut” yang serakah). Kemudian Margaret Mead, filosof pendidikan Inggris, juga mengungkapkan sinismenya terhadap institusi persekolahan, termasuk kampus, dengan menyatakan: “nenek ingin aku memeroleh pendidikan, karenanya ia melarang aku sekolah” (M. Escobar, Sekolah: Kapitalisme yang Licik, LKiS, 1997).

Penilaian itu lahir dari kenyataan, betapa lembaga pendidikan tidak lagi menjadi pusat penumbuhan nilai-nilai moral yang jujur, kritis, terbuka dan merdeka. Juga tidak lagi membina kepekaan sosial dan kemandirian peserta didik, agar mereka siap mengusung tata-krama kehidupan bersama yang saling percaya, saling menguntungkan dan penuh solidaritas sosial. Sehingga perikehidupan yang baik menjadi rusak setelah anak-anak memasuki lembaga-lembaga sekolah, terutama di perguruan tinggi. Meskipun kemudian banyak institusi sekolah tersebut berhasil memproduksi banyak “guru besar.” Walau dengan derajat kejujuran dan otentisitas keilmuannya yang sungguh menjadi masalah tersendiri. Sehingga kampus menjadi mandul dan gagal melahirkan para “ulil-albab” sebagaimana yang dimaksudkan dan diharapkan Quran (3:191). Ada sejumlah hal struktural sebagai sebab-sebab awal yang membuat kampus kehilangan kesucian ilmiahnya. Antara lain, Pertama, pilihan sistem pengelolaan dan kepemimpinan kampus yang tidak demokratis, tidak akuntabel, tidak partisipatif, elitis dan tertutup. Sistem ini warisan Orba yang masih dipertahankan sebagai statuta kampus, dimana kepemimpinan lembaga Senat dan Dekanat/ Rektorat berada di tangan penguasa tunggal (Dekan/Rektor). Artinya antara kekuasaan eksekutif dan legislatif tidak dipisahkan secara tegas dan fungsional. Sehingga pengawasan internal, pertanggungjawaban publik yang akuntabel dan transparansi atas pelaksanaan amanah kepemimpinan sama sekali tidak pernah terjadi sepanjang sejarah kepemimpinan kampus di Indonesia. Sementara itu, sistem rekrutmen keanggotaan senat Fakultas/Institut-Universitas yang mayoritas anggotanya.. ((By : Hamdan)  rayon al-ghazali fakultas dakwah dan komunikasi IAIN Mataram )

DIAGNOSTIK MANAJEMEN PMII KOM. IAIN Mataram

Rabu, 12 Januari 2011

“Impian Seorang Kader”

Saya adalah salah satu dari sekian kader PMII Cabang Kota Matara yang ingin melihat sahabat-sahabatnya mengibarkan bendera PMII, tidak hanya diwilayah IAIN Mataram. Tapi jauh kesetiap sudut kampus yang ada di Kota Mataram, dari itu saya secara peribadi sebagai seorang kader ingin melihat kibaran PMII khususnya Cabang Kota Mataram dapat dilihat dimana saja dan kapan saja. Penulis ingin mengajak sahabat-sahabat PMII semua, ada beberapa hal yang penting dan menarik untuk dikaji apabila kita sama-sama cermati lebih mendalam kondisi rill kita hari ini di PMII Cabang Mataram. Pertama ambisi yang dimiliki oleh rata-rata Anggota ataupun kader PMII khususnya Cabang Kota Mataram ternyata mudah pupus diparuh jalan gerakan mereka kurang menyadari bahwa mereka akan menjadi leader dilingkup yang lebih besar. Ambisi patut tumbuh dalam diri jiwa setiap kader, hal itu perlu untuk memberikan pemahaman kepada dunia bahwa kita sebagai anak pergerakan memiliki potensi untuk menjadi seorang pemimpin buktikan kepada mereka bahwa kita bisa dalam menejmen kepemimpinan.

Kedua visi siapapun orangnya dalam bingkai ksaderisasi layak untuk memimpin dan dipimpin, memilih dan dipilih oleh karena itu apapun visinya jika sesuai dengan keinginan bersama dan dapat mengakomodasi dari sekian pluralitas manusia dipergerakan layak baginya untuk memimpin. Buktikan bahwa andalah yang terbaik dalam PMII. mengakomodasi kuantitas sangat penting, tapi satu hal yang tak kalah pentingnya akomodasilah kualitas Leader dan kader  yang diatas rata-rata Sehingga dalam memimpin percaya dirilah dia.
Ketiga realisme gerakan dalam hal ini siapapun boleh menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan berorganisasi. Tapi gunakanlah cara-cara yang beretika, sesuai dengan AD/ART organisasi. Memojokkan, menuding, menfitnah dan lain sebagainya bukanlah cara obyektif untuk mensukseskan seseorang dalam sebuah kekuasaan. I’tikad berorganisasi itu tidak layak haya bergelut dengan sahabat sendiri. Buktikan dan lakukan dengan nyali maksimal untuk bertempur dengan insane intelektual yang belum pernah berpapasan gagasan dengan kita selama ini.

Sahabat-sahabat belajarlah berdemokrasi dengan baik dan memahami kekuatan lawan. sehingga tidak perlu menggunakan trik dan intrik untuk membunuh karakter orang lain yang melakukan proses bersama. Terahir untuk sahabat-sahabat bersikaplah jantan bijak dan berani. Untuk mengarahkan sahabatnya yang sedang menempuh perjalanan yang dianggap salah dan keliru. Berbicara, mata ketemu mata adalah sikap arif yang dilakukan untuk tujuan berkibarnya bendera yang sama yaitu PMII jujurlah padanya dimana kepentingan PMII dan dimana kepentingan peribadi. (By : Syamsul Rahman)

Rabu, 29 Desember 2010

KEMANAKAH ARAH IAIN MATARAM SELANJUTNYA.........?

   Sebagai mahluk sosial yang berfikir,  tentu kita memiliki tujuan dan harapan dalam hidup ini. Kata ini yang menjadi harapan mahasiswa yang ada dilingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram sekarang ini. (kasus cpns diwilayah NTB 2009/2010)
              Berawal dari banyaknya permasalahan yang terjadi di kampus membuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga ini cukup serius untuk ditanggani, baik dari perbaikan manejemen, kurikulum serta pelayanan terhadap alumni yang ada dikampus yang selalu disebut dengan kampus putih. Namun apa yang terjadi diberbagai daerah yang ada di wilayah NTB banyak yang tidak menerima ijazah mahasiswa alumni IAIN Mataram. Banyak sumber suara yang berpendapat terkait dengan adanya tulisan “Tadris” di depan nama jurusan seperti : Tadris Biologi, Tadris IPS dan Tadris Matematika. Membuat BKD diberbagai daerah tidak menerima menerima mereka untuk ikut serta mengikuti tes CPNS yang ada didaerahnya sendiri. Apalagi mereka berada ditempat yang lain, ini sebuah kejadian yang aneh ketika pera generasi muda tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan lapanga kerja. Perlu kita sadari bersama-sama banyak diantara orang-orang yang ada dilembaga kampus putih yang tercintai ini tidak peduli dengan keadaan yang terjadi dengan lembaganya sendiri. Padahal kasus ini sering terjadi setiap prekrutan calon pegawai negeri sipil (CPNS), namun apa yang terjadi saat sekarang ini. Para alumni dari perguruan tinggi agama terkemuka diwilayah timur ini gigit jari lantaran mereka belum bertarung sudah terelaminasi terlebih dahulu. Kacian.!

Kata – kata ini sungguh membuat alumni merasa terpukul dengan kasus yang menimpa mereka. Namun apa yang terjadi dengan respon pihak lembaga sebagai penanggung jawab dalam kasus ini hanya mampu berkomentar tapi tidak bisa berbuat, kenyataannya sampai detik pelaksanaan tes CPNS hal tersebut tidak diterima oleh sebagian BKD yang ada diwilayah NTB. Padahal kalau kita melihat dengan sepak terjang berdiri IAIN Mataram yang sudah menghampiri setenggah abad ini belum mampu diakomodir oleh seluruh lahan yang telah dipersiapkan oleh pemerinta. Tak tau kenapa. Dengan permasalahan ini apa yang salah,,,,? Apakah yang salah alumni atau lembaga yang acuh dengan para alumninya. Ini sungguh-sungguh ironis sekali. Berbeda halnya dengan pelayanan yang didapatkan oleh perguruan tinggi umum yang ada diwilayah ini.

Berbalik dari kasus yang terjadi dengan para alumni, para penjabat dilingkungan kampus ini merasa tersibukkan dengan berbagai macam kepentingan. Mulai dari rektor yang sampai saat ini belum mendapatkan surat keputusan (SK) defenitif yang memberikan kebebasan dalam menjalankan serta mengurus organisasi sepenuhnya. Belum lagi dengan jabatan-jabatan yang lain seperti pembantu rektor yang hamir habis masa jabatanya, dekan ke-3 tiga fakultas serta pembantu dekan sudah memasuki masa kadaluarsa alias habis masa jabatan. Yang walaupun segala usaha yang dilakukan oleh pemimpin sementara rektor (Pgs. rektor) sampai saat ini belum ada tititk temu dalam mengisi jabatan yang kosong ini karena harus berkoordinasi dengan kementerian agama dijakarta terlabih dahulu.

Belum lagi dengan kasus yang lain  setelah pasca pemilihan rektor yang sampai saat ini masih terambang-ambing, beralih  lagi ke proses pemilihan dekan yang ada dilingkungan IAIN Mataram untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun yang terjadi, dari golombang pertama sampai saat ini belum bisa dijalankan karena terkendala dengan plaksanaan teknis terkait minimnya minat dari dosen/pengajar yang mendaftar. Terkait dengan syarat bakal calon yang harus memiliki gelar pendidikan S3 dan jabatan fungsional sekurang-kurangnya lektor kepala (IV/a) ( statuta IAIN Mataram pasal 83 ayat (1) dan ayat (3) huruf (C) ) yang mengatakan bahwa calon dekan minimal 3 ( tiga) namun itu semua masih belum mampu terakomodir semuanya. Berbagai macam pendekatan terus dijalankan oleh panitia pemilihan untuk mendapatkan calon. Sesuatu yang tidak semestinya terjadi bahkan terjadi dengan berbagai macam calon yang mendaftar seperti kasus di fakultas Tarbiyah dan fakultas syari’ah yang sudah memasuki gelombang ke-3 nampa calon tercukupi sesuai dengan yang ada di statute sebagai acuan panitia pelaksana, namun berbeda dengan yang terjadi di fakultas termuda dilingkungan IAIN Mataram yang sampai saat ini masih berada dalam tahap ke-2. Meskipun belum memenuhi praturan yang ada di stuta IAIN Mataram. Namun menurut informasi yang dihimpun oleh penulis bahwa dalam hal ini terjadi permainan yang cukup luar biasa di kubuh fakultas dakwah dan komunikasi dalam pemilihan pemimpinnya. Tanda memang sudah ada namun belum mendaftar ( tunggu aja). Tapi semua itu merupakan permainan yang  sangat terduga.

Ini membuktikan bahwa dalam lembaga perguruan tinggi agama yang menjunjung tinggi azaz demokrasi serta menjalankan syari’at agama Islam yang semestinya berjalan dengan baik berubah dilematis disebabkan tunggangan politik yang tidak wajar. Mungkin penulis melihat dalam kasus ini terlalu berlebihan, namun semua itu sebuah bukti bahwa ketidakpercayaan para pejabat terhadap kasus ini sampai-sampai permainan politik “UANG” pun bermunculan demi memuaskan hati terhadap orang-orang yang lain.

Hal ini tanpa kita sadari terjadi. Tapi bukan berarti kita berdiam menerima dengan lapang dada segala bentuk yang terjadi dikampus ini. Penulis berharap semoga dengan tulisan ini kita lebih dewasa dalam mengambil langkah demi terwujudnya lembaga yang bermartabat sehingga sesuai dengan bigron lembaga kita tercinta yang selalu suci selamanya. Begitu juga harapan penulis kepada teman-teman mahasiswa supaya lebih inten dalam mengawali proses yang terjadi dikampus kita sekarang ini. (By : hamdan(Ketua BEM-FDK))

Kamis, 23 Desember 2010

Eksistensi Mahasiswa : antara PT, Dosen Dan mahsiswa

Eksistensi mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat, di yakini memiliki nilai dan peran lebih, sehingga status sosialnya cukup di perhitungkan. Kemampuan intelektual, skill, keterampilan dan yang tidak kalah mungkin kemampuan verbal dalam menghadapi dan mempengaruhi masyarakat adalah sederetan nilai tawar bagi mahasiswa. di banding dengan kaum muda seusianya. Maka, tidaklah berlebihan jika mahasiswa di anggap sebagai komunitas “maha”. Dalam peranannya, mahasiswa sangat berarti bagi masyarakat, baik dalam hal pemikiran, tenaga maupun lainnya. Sehingga akan sangat naïf jika kemampuan tersebut tidak 

termanifestasikan secara empiris. Secara akademik, Perguruan Tinggi sebagai rahim intelektual mahasiswa, mempunyai misi untuk masyarakat. Misi yang di kenal dengan Tri Darma Perguruan Tinggi (pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat) tersebut, merupakan wahana untuk membekali mahasiswa dalam menghadapi masyarakat nantinya. Karena gelombang zaman meniscayakan masyarakat untuk semakin cerdas dan tanggap, dan mahasiswalah yang akan menjadi motor penggeraknya, untuk mengawali semua itu.
Kenyataan-kenyataan seperti ini yang selalu kita harapkan bersama demi menjadi mahsiswa yang produktif (mahasiswa yang siap pakai). Mahasiswa yang menjadi tolak ukur intelektual bagi masyarakat. Akan tetapi kita sebagai mahsiswa juga perlu tahu akan jati diri yang sesungguhnya yaitu “maha”. Secara Pengabdian kepada masyarakat bagi mahasiswa merupakan sesuatu yang tak dapat dielakkan. Mengingat masyarakat sebagai komunitas besar dari individu, menuntut untuk mencapai kehidupan yang sejahetera. Maka sebuah ketepatan ketika Perguruan tinggi mempunyai Tri darma, meski harus membayar mahal untuk konsisten dalam implementasinya. Sampai di sini, menarik kemudian untuk membaca sejauh mana peran dan pengabdian mahasiswa bagi masyarakat. Dan sejauh mana perguruan tinggi memberikan pengajaran tentang tri darma kepada mahasiswa.

Fakultas dakwah yang kemudian menjadi barometer mahasiswa dalam pertumbuhan diri baik komunikasi mapun pengembangan tidak ubah seperti pendidikan. Contoh riil keadaan ini adalah alumni fakultas dakwah dan komunikasi IAIN Mataram 90% menjadi tenaga pengajar pondok pesantren. Akan tetapi secara umum kita memandang bahwa IAIN Mataram sebagai bagian dari realitas Perguruan Tinggi, mempunyai tugas yang sama dalam membekali mahasiswanya untuk menghadapi masyarakat. Secara ideal, lewat tri darmanya. IAIN Mataram memang sudah mendeklarasikan niatan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat. Tetapi dalam ranah empiris, apakah hal ini sudah terwujud, adalah pertanyaan besar yang harus di jawab. Konsepsi akademik yang menempatkan masyarakat sebagai satu kesatuan akademik, baik dalam ranah pendidikan, penelitian maupun pengabdian.

Mahasiswa, Bukan Ilmu untuk Ilmu. Sebuah maqolah – yang sering di nisbatkan sebagai sebuah hadis, “al ilmu bila amalin ka al syajarotu bila tsamarin”, ilmu yang tidak di amalkan, bagaikan pohon yang tak berbuah. Jelas, buah dari pada ilmu adalah amal. Sehingga, sangatlah naïf ketika mahasiswa dan pasca pendidikan tidak mampu mengamalkan ilmunya. Dalam hal ini, ilmu bukan untuk ilmu, tapi ilmu untuk di amalkan kepada manusia. Perlu diakui, bahwa pendidikan di IAIN Mataram semata–mata hanyalah gradasi memperoleh ijazah, selebihnya tidak. Sehingga, proses pendidikan yang dilakukan mahasiswa hanya sebagai formalitas untuk mencapai gelar kesarjanaan. Hal ini juga sepertinya diamini oleh IAIN, yang nota bene sebagai lembaga yang bermisi pengabdian masyarakat. Ini dapat dilihat dari nuansa akademik yang ada. Muatan mata Kuliah yang idealnya adalah pembekalan mahasiswa untuk hidup di masyarakat, seakan didesain tidak demikian.


buletin KOM IKIP MATARAM

Assalamualaikum Wr.Wb
Salam pergerakan…!!!

Syukur alhamdulillah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya kepada kita semua. Shalawat serta salam kita haturkan kepada baginda Rasulullah SAW atas semua jasa-jasa beliau dalam menyebarluaskan Islam yang sumber utama ajarannya adalah Al-Qur’an.
PMII komisa...riat IKIP Mataram adalah Komisariat terbesar kedua di kota Mataram setelah Komisariat IAIN Mataram, dengan umur yang cukup muda ini PMII Kom IKIP Mataram tentu masih belum matang dalam segala lini, sekalipun dalam beberapa program dan agenda pernah melakukan beberapa trobosan konkrit baik dalam agenda penguatan pemikiran maupun agenda kontributif lainnya, namun dengan ini pula tentu pengayoman dan kontribusi konstruktif dari pengurus cabang, senior dan alumni tentu masih sangat kami harapkan untuk eksistensi PMII KOM IKIP kedepannya.

Tanggal 26 November 2010 jum’at malam  adalah malam pembentukan sejarah baru dalam tubuh PMII KOM IKIP Mataram karena pada momentum tersebut atas konsorsium bersama Alhamdulillah PMII KOM IKIP Mataram mendeklarasi satu media inklusif untuk dijadikan sebagai tempat pembelajaran bagi kader dan anggota yaitu SETANN (selebaran tahunan) edisi 1, dan untuk di ketahui bahwa media ini tidak tentu waktu penerbitannya karena akan mengacu pada kondisi relitas obyektif dalam setiap waktunya.

Satu pribahasa “TIADA ROTAN AKARPUN JADI” saya pikir tepat kita ucapkan dalam deklarasi dan penerbitan SETANN ini, karena dengan dasar yang minim dan kondisi yang tidak efektif Alhamdulillah SETANN ini bisa terbit dalam waktu singkat, modal hajatan dan ikhtiar tinggi ternyata menjawab semuanya tanpa terduga. Dan Alhamdulillah sahabat-sahabat kader dan anggota PMII KOM IKIP menyambut antusias deklarasi dan terbitnya media ini.Semoga dengan terbitnya SETANN ini memberikan satu kontribusi konstruktif besar bagi warga gerakan, karena lewat media ini setidaknya merupakan satu tempat penyampaian suara hati kader dan anggota dan masukan-masukannya dalam rangka membangun bersama semangat gerakan untuk organisasi kita tercinta PMII dalam menatap masa depan.amieen. Mataram, 28 November 2010, Ketua komisariat IKIP Mataram (Sabolah Al-Kalamby)

Rayon Persiapan ABDURAHMAN WAHID

GAGSAN , KOMITMEN AWAL TERBENTUKNYA RAYON ABD. RAHMAN WAHID

Berawal dari kata  “komtmen” , dalam persfektip konsep pergerakan  akan mencoba menggapai sebuah kemajuan , karena memang dengan komitmen ini akan melahirkan sebuah perubahan, tentu segala aktivitas selalu di sertai dengan  plenning yang diiringi dengan komitmen tersebut. Terbentuknya  ...Rayon Abdurrahman Wahid adalah merupakan salah satu bentuk komitmen, gagasan dan inisiatif sahabat-sahabat Komisariat IKIP Mataram yang tergabung dalam satu  komitmen bersama. Dengan munculnya sebuah gagasan tersebut  lebih-lebih berada dalam pengurus  yang  menaungi Bidang  Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang sebelumnya tergabung Dalam Kepengurusan Rayon Budi  Utomo  ( FPMIPA) tentunya dengan berbagai macam pertimbangan  sehingga gagasan ini muncul. Pengurus  PMII Komisariat IKIP Mataram saat ini  dapat  merespond hal tersebut, Nah kemudian inilah yang menjadi barometer awal sehingga Rayon Abdurrahman Wahid lahir  atas dasar mutasi yang di alami oleh Rayon Budi Utomo, karena memang pada dasarnya rayon yang  baru terbentuk ini merupakan regenerasi dari pada rayon sebelumnya yang masih tergabung dalam 2 fakultas (FPMIPA/FIP)  yaitu Rayon Budi Utomo. satu hal yang menjadi kebanggaan di sertai dengan kekompakan yang tidak pernah terurai bahwa PMII  Komisariat  IKIP Mataram  sudah mampu melahirkan Regenerasi yang cukup progresif untuk memikirkan masa depan PMII. Namun  sekalipun itu merupakan sebuah kebanggaan atau apresiasi sangat tinggi  yang di alami oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII komisariat IKIP khususnya dan PMII kota Mataram umumnya, namun harapan kedepan kami yang menjadi pemegang amanat kepengurusan yang masih baru dan (Rayon Abdurrahman Wahid 05/12/2010) di sini sangat mengharapkan  support  dan bimbingan dari Senior entah itu dari Komisariat atau Cabang . Karena melihat Anggota ataupun Kader yang ada di Rayon ini masih kurang berpengalaman tentang bagaimana bekerja sesuai apa yang diharapkan sahabat-sahabat sesungguhnya.

“GAGASAN NAMA”

Abdurrahman wahid adalah tokoh pemikir yang lahir dalam komunitas islam yang bernaung di bawah organisasi terbesar di Indonesia  yaitu organisasi  NU (Nahdlatul Ulama) seperti yang kita tahu bersama bahwa Abdurrahman wahid yang kerap di kenal dengan “GUSDUR. Apalagi beliau pernah memimpin  organisasi sendiri .Bahkan  lebih dari itu  beliau   juga pernah  memimpin negara Indonesia. yang pada saat itu kita semua tahu, bahwa beliau  terkenal dengan ulama besar yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan yang ada  pada  Negara ini, dan semua itu dapat di rasakan oleh seluruh rakyat Indonesia  atas kepemimpinan nya. tokoh  paham “pluralis”, artinya beliau sangat cerdas dalam memimpin Indonesia ini . seperti yang kita tahu bahwa Indonesia adalah Negara multi kultur  baik dalam aspek keagamaan , suku dan sebagainya. sehingga dengan itu harapan kami selaku  “penulis”, gagasan, (ketua rayon terpilih ) yang menamakan rayon ini, beharap dengan membawa nama lembaga PMII yang masih di tatanan rayon mampu melahirkan gusdur-guisdur  baru, artinya generasi yang di harapkan khususnya di rayon ini  mampu mengimplementasikan nilai  yang di perjuangkan oleh seorang  gusdur sesungguhnya  dalam menghadapi persoalan miniature sebuah Negara atau kampus IKIP mataram ini yang tidak jauh beda dengan Negara indonesia. Amin….!!!

Mencetak Sejarah Untuk Menyongsong Masa Depan

Perjuangan bukanlah sebuah kata-kata, bukan pula tindakan sepontanitas, Namun perjuangan timbul dari niat yang paling dalam untuk melakukan sebuah aktivitas dengan dasar yang pasti (aktivitas yang di sertai dengan kekuatan reprensi, gagasan dan komitmen)  yang harus di pertahankan, di jaga  demi mewujudkan perjuangan tersebut serta ”istiqomah berbuat terhadap sesuatu yang diperjuangkan. Rayon Abdurrahman Wahid adalah salah satu betuk sejarah perjuangan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ada di Komisariat IKIP Mataram yang harus di catat, karena mengingat umurnya yang masih cukup muda, sudah  mampu menciptakan blok gerakan PMII di kampus IKIP Mataram dengan mulus. Terbentuknya Rayon Abdurrahman Wahid  juga merupakan  wujud  Implementasi perjuangan Komisariat kepada Rayon yang ada di IKIP Mataram,  tanpa terlupakan juga dengan perjuangan sahabat-sahabat  yang berada di Fakultas Ilmu Pendidikan .

Sahabat Burex Al-ghazaly yang merupakan hasil reproduksi Rayon Budi Utomo dan banyak sahabat-sahabat yang lain juga mampu mengemban serta melanjutkan  estapet perjuangannya di Fakultas Ilmu Pendidikan yang saat ini di bawah garapan Rayon Abdurrahman Wahid komisariat ikip mataram. bahkan satu kebanggaan bagi dia ketika proses pemilihan siapa yang sekiranya yang cocok memimpin rayon yang baru di rintis ini , ternyata secara aklamasi sahabat burex al-ghazaly yang sok elit itu lah yang di percayakan pada saat itu oleh sahabat - sahabat yang ada di Ikip Mataram. Dengan kepercayan itulah terkadang menjadi sebuah tanggung jawab besar bagi PMII Ikip mataram khususnya pimpinan rayon baru yang terpilih. (By : Burek Al-Ghazali)

BINTANG SEMBILAN KINI TERBIT DI LOMBOK BARAT

Pergerakan mahasiswa Islam Indonesia adalah organisasi yang memang dinamis dalam gerakan dan optimis dalam ekspansi. Lombok barat adalah kabupaten yang sangat besar namun dalam sejarahnya belum pernah ada kibaran bendera kuning berbintang Sembilan di kabupaten ini, sehingga menjadi PR besar ketika melihat kabupaten sebesar ini belum diwarnai bender...a kuning.

Kini bintang Sembilan mulai terbit dilombok barat untuk mewarnai. Dengan manifiestasi awal Di beberapa kali melakukan MAPABA. Komisaiat IKIP Mataram sudah mulai banyak benih-benih yang mulai dititip untuk dirawat, komisariat persiapan nurul hakim Kediri adalah merupakan satu kampus yang mulai berani dan siap memilih PMII sebagai tempat belajar bersama dalam berkontribusi untuk kampus dan daerah. Dengan capaian luar biasa seperti ini mestinya diimbangi dengan perhatian yang penuh dari cabang pembimbing dalam memberikan semangat berorganisasi dan mengembangkan PMII khususnya di Lombok barat.

Dengan berdirinya komisariat persiapan yang baru ini akan makin menunjukan eksistensi PMII dalam menempuh zaman yang terkadang  membuat kita terlena, karena makin banyak komisariat dan cabang PMII di seluruh Indonesia akan makin mempermudah gerakan procedural dalam tubuh PMII.
Pengayoman dari kita yang mengaku sahabat adalah sangat di butuhkan oleh Sahabat-sahabat komisariat persiapan Lombok Barat untuk memenuhi hajatannya mengembangkan dan mengibarkan bendera kuning di Lombok Barat. (Ketua KOM PMII IKIP)

Bercinta dengan PMII

Sekilas ketika kita berbicara tentang cinta, melapaskan kata-kata cinta semua orang menjadi sumringah, bergairah, dan berbahagia bahkan mungkin berseri-seri, tertawa sendiri, senyam-senyum dan berjingkrak-jingkrak. Cinta memang membuat kita bahagia meskipun kadang kesedihan dan penderitaan melanda datang begitu saja bagai jailangkung, dan itu yang ...aku lakoni sekarang sahabat/i_ku, akan tetapi eeeeeeiitttt,,,!!! Tunggu dulu sahabatku, aku bercinta dengan PMII bukan dengan orang atau manusia. Aku begitu menikm ati bercinta dengan PMII hingga semuanya terasa begitu lengkap, semuanya penuh warna kebahagiaan, dan penderitaan dimana keduanya itu melengkapi melengkapi perjalanan cintaku bersama PMII, kebahagiaan dan penderitaan akan selalu beriringan dan bergandrengan, semuanya itu membuat perjalanan cintaku dengan PMII semakin menarik karena tanpa kebahagiaan hidup akan terasa tidak berarti, begitupun juga tanpa penderitaan kebahagiaan tidak akan mempunyai makna, mugkin ini terdengar lucu bagi sahabat/I, masak sich bercinta dengan benda mati yang hanya sekedar nama, mungkin bagi sahabt/I iya, akan tetapi bagiku tidak, aku merasakan bahwa PMII itu hidup, bernafas dan seolah-olah bercengkrama denganku, PMII memberikanku semuanya, kebahagiaan, senyuman, arti persahabatan, cinta, kekecewaan, dan yang paling tidak kalah banyaknya yang PMII berikan adalah pengalaman hidup dan knowledge. I love you PMII, I’am  really falling in love for PMII.  (By : Rohany Inta Dewi)